Syawalan Jadi Ajang Evaluasi Diri, Kankemenag Gunungkidul Tekankan Keberlanjutan Nilai Ramadan

  Selasa, 07 April 2026    Bacakan Berita     134 
Foto Syawalan Jadi Ajang Evaluasi Diri, Kankemenag Gunungkidul Tekankan Keberlanjutan Nilai Ramadan

Tanjungsari (Kankemenag Gunungkidul) – Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gunungkidul, Dr. H. Mukotip, S.Ag., M.Pd.I., menghadiri kegiatan Halal Bihalal 1447 H yang diselenggarakan oleh Pengurus Daerah Kelompok Kerja Raudhatul Athfal (KKRA) Kabupaten Gunungkidul, Selasa (7/4/2026).

Kegiatan tersebut berlangsung di Kampung Lobster, Pantai Sepanjang, Tanjungsari, dengan diikuti para pendidik RA se-Kabupaten Gunungkidul.

Acara yang menjadi ajang silaturahmi pasca Idulfitri ini tidak hanya diisi dengan ramah tamah, tetapi juga tausiah Hikmah Syawalan yang sarat makna. Dalam penyampaiannya, Mukotip menegaskan bahwa Idulfitri bukanlah akhir dari rangkaian ibadah Ramadan, melainkan titik awal untuk mengamalkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.

“Jangan sampai Idulfitri dianggap sebagai tanda selesainya semua ibadah. Justru di balik lebaran ada pekerjaan rumah besar yang harus diwujudkan dalam kehidupan nyata,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, dalam perspektif pendidikan agama Islam, Ramadan merupakan proses tarbiyah atau pendidikan selama satu bulan penuh. Sementara itu, sebelas bulan berikutnya adalah “sekolah kehidupan” yang menjadi ruang implementasi dari nilai-nilai yang telah dipelajari selama Ramadan.

Lebih lanjut, Mukotip menyebut bulan Syawal sebagai momentum penting untuk melakukan evaluasi diri (muhasabah). Keberhasilan Ramadan, menurutnya, harus tercermin dalam perubahan perilaku yang nyata, seperti tetap menjaga salat berjamaah, membaca Al-Qur’an, dan meningkatkan kualitas ibadah lainnya.

Selain sebagai bulan evaluasi, Syawal juga dimaknai sebagai bulan keberlanjutan amal. Anjuran puasa enam hari di bulan Syawal menjadi simbol pentingnya konsistensi (istikamah) dalam beribadah. Ia menekankan bahwa amal terbaik adalah yang dilakukan secara terus-menerus, meskipun sedikit.

Tidak hanya itu, Syawal juga menjadi bulan implementasi nilai-nilai Ramadan dalam kehidupan sosial. Mukotip menyoroti pentingnya kepekaan sosial di tengah masyarakat. Ia mencontohkan masih adanya kasus warga yang mengalami kesulitan hidup akibat minimnya kepedulian lingkungan sekitar.

“Ketika lingkungan tidak peduli, itu berbahaya. Oleh karena itu, nilai Ramadan harus melahirkan kepekaan sosial. Kalau kita peduli, insyaallah kita juga akan dipedulikan,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa Syawal merupakan momentum untuk melatih keikhlasan dalam beribadah. Ibadah tidak lagi bergantung pada suasana Ramadan, tetapi lahir dari kesadaran pribadi yang tulus.

Di akhir tausiahnya, Mukotip menegaskan bahwa tujuan utama dari seluruh proses Ramadan hingga Syawal adalah terbentuknya pribadi yang bertakwa. Nilai ketakwaan tersebut harus terus dijaga dan ditingkatkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan Halal Bihalal ini juga dihadiri oleh pengawas madrasah, yakni Karmanto, S.Ag., M.Pd., Khisbiyah, S.Ag., M.S.I., dan Sri Rahmiyati, S.Pd., M.Pd. Setelah rangkaian acara selesai, kegiatan dilanjutkan dengan rapat koordinasi bersama pengawas madrasah guna memperkuat sinergi dan peningkatan mutu pendidikan RA di Kabupaten Gunungkidul.(sgt)

Penulis : Sigit

Editor : Putri HS

Facebook Kemenag Gunungkidul