Tepus (MIN 6 Gunungkidul) - Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang berbudaya ketimuran, sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi bangsa-bangsa lain untuk mengunjungi Indonesia dan mengenalnya lebih dekat. Tentu saja pengenalan budaya dipadukan dengan pengenalan pendidikan yang luas. Sebab, budaya membutuhkan pendidikan untuk mengadaptasikan menjadi suatu bentuk yang menarik dan memiliki ciri khas.
Pada hakikatnya, manusia adalah mahluk yang berbudaya. Oleh karenanya budaya sangat melekat dalam kehidupan manusia. Sehingga ketika manusia mendapatkan pendidikan untuk membuka wawasan secara universal, maka budaya menjadi penyeimbang agar ketika manusia menjadi superior, ia tidak kehilangan identitas diri sebagai manusia yang berbudayanya terhadap orang lain.
Tetapi seiring dengan berjalannya waktu masyarakat Indonesia pada umumnya termasuk masyarakat di lingkungan Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 6 Gunungkidul, predikat budaya ketimuran itu semakin tidak terlihat karena terpengaruh oleh budaya barat. Semua itu bisa terjadi karena MIN 6 Gunungkidul berada di kawasan Obyek Wisata Pantai (OWP) di Gunungkidul.
Oleh karenanya MIN 6 Gunungkidul mencoba mengembalikan predikat budaya ketimuran tersebut lewat Rencana Program Madrasah (RPM), diantaranya dengan diangkatnya Program Extrakurikuler Seni Budaya menjadi salah satu pilihannya, seperti menyanyi lagu-lagu Islami (Nasyid) dan seni tari tradisional yang disepakati oleh semua perangkat madrasah dan program tersebut telah disesuaikan dengan fasilitas seni musik yang dimiliki oleh madrasah.
Ternyata program tersebut mendapat dukungan sepenuhnya dari orangtua atau wali siswa sehingga banyak para siswa yang mengikuti program extra seni budaya tersebut. Dari situ terbentuklah group-group tari tradisional dan yang tidak kalah hebatnya terbentuklah Group Nasyid MIN 6 Gunungkidul, yang didukung oleh penyanyi cilik berpotensi, Dwi Risqi Ramadhani kelas III.A, MIN 6 Gunungkidul yang diikuti oleh sederet penyanyi lainnya.
Group Nasyid MIN 6 Gunungkidul sangat mewarnai pelestarian seni budaya tradisional yang bersifat agamis, sehingga banyak diterima oleh masyarakat. Kesempatan demi kesempatan diberikan oleh masyarakat kepada Group Nasyid MIN 6 Gunungkidul untuk mengisi event-event penting baik ditingkat Kecamatan Tepus sendiri, maupun di kecamatan lain.
Menanggapi program tersebut, Guru Pembimbing Seni Budaya MIN 6 Gunungkidul, Suyanto, menyampaikan pentingnya melestarikan budaya menyadarkan sejumlah lembaga pendidikan untuk terus memberikan pembelajaran tentang beranekaragamnya suku bangsa dan bahasa yang kita punya.
Metode pengenalan budaya kepada peserta didik dilakukan dengan cara mengajak anak didik untuk membuat sejumlah kreasi tentang kekayaan tradisi bangsa yang kita punya. Seperti yang dilakukan MIN 6 Gunungkidul, anak-anak dibimbing untuk membuat kreatifitas dalam hal kesenian melalui lagu dan tarian yang berbudaya ketimuran seperti tujuan semula.
"Secara praktiknya, hal ini benar-benar sangat berhasil menumbuhkan kecintaan terhadap budaya tradisional kita karena mereka dituntut untuk secara langsung mengaplikasikannya baik secara individu maupun kelompok. Penerapan itu menurut saya sangat optimal untuk menumbuhkan sikap dan pandangan generasi muda agar terus memupuk kecintaan terhadap budaya daerah," pungkas Suyanto.
Penulis : Min Tepus/MIN 6
Editor : Siti Nurafrianti