KUA Patuk Adakan Pengukuran Arah Kiblat di Pelataran Parkir Wisata Embung Nglanggeran

  Selasa, 28 Mei 2024    Bacakan Berita     81 
Foto KUA Patuk Adakan Pengukuran Arah Kiblat di Pelataran Parkir Wisata Embung Nglanggeran

Patuk (KUA Patuk) – Penyuluh Agama Islam KUA Patuk beserta Takmir Masjid Kalurahan Nglanggeran mengadakan pengukuran arah kiblat di pelataran parkir Wisata Embung Nglanggeran pada Senin (27/5/2024). Tempat ini biasanya digunakan untuk pelaksanaan salat Idul Adha atau Idul Fitri oleh masyarakat setempat.

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut atas  imbauan Kementerian Agama melalui Gerakan Hari Sejuta Kiblat. Sebagaimana diketahui bahwa pada Senin, tanggal 27 Mei 2024 pukul 16.18 WIB atau 17.18 WITA terjadi momen istimewa “Istiwa A’zam” atau “Rashdul Kiblat”, yaitu posisi matahari tepat di atas Ka’bah, sehingga semua bayangan dari benda yang tegak lurus dan ditegakkan di tempat yang rata, maka bayangannya mengarah ke arah kiblat.

Persiapan pengukuran arah kiblat ini dimulai jam 16:00 WIB dengan alat tongkat tegak lurus dan menggunakan benang yang dikasih bandul di bawahnya. Akan tetapi, ketika tepat jam 16:18 WIB matahari terhalang awan mendung, sehingga tidak ada bayangan dari alat yang disiapkan, sehingga tidak bisa ditentukan arah kiblatnya.

Kepala KUA Patuk, H. Wahyu Endardi S.Sos.I, dalam kesempatan ini juga menyampaikan bahwa, Hari Sejuta Kiblat bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa siapa saja dapat mengukur arah kiblat tanpa memerlukan keahlian atau peralatan khusus, yaitu dengan memanfaatkan momen “Rashdul Kiblat” ini. Yang penting ada sinar matahari yang tidak tertutup awan. “Terkait momentum hari ini yang gagal menentukan arah kiblat memanfaatkan istiwa a’zam,  KUA Patuk akan memfasilitasi penentuan arah kiblat melalui metode lain,” ungkapnya.

Subardi, salah satu takmir masjid Kalurahan Nglanggeran yang mengikuti kegiatan ini mengapresiasi KUA Patuk yang sudah menyempatkan waktunya untuk mengukur arah kiblat di pelataran parkir Wisata Embung Nglanggeran ini. Subardi tidak kecewa meskipun tidak berhasil mendapatkan arah kiblat karena faktor alam, yaitu cahaya matahari yang tertutup awan mendung. "Setidaknya dengan kegiatan ini kami jadi mengetahui informasi tentang Rashdul Kiblat dan bagaimana cara mengukurnya dengan peralatan yang sederhana," katanya.

Penulis : KUA Patuk

Editor : Andi Eko

Facebook Kemenag Gunungkidul