Gunungkidul (Kankemenag) – Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gunungkidul, Arief Gunadi, menilai masyarakat di Kabupaten Gunungkidul sudah mempunyai kesadaran yang penuh tentang toleransi antarumat beragama. Sekalipun ada beberapa persoalan, tetapi dapat diselesaikan dengan kepala dingin, dengan duduk bersama, bermusyawarah dengan berdiskusi, difasilitasi oleh pemerintah, baik oleh Pemerintah Daerah, dalam hal ini Pemerintah Kabupaten, maupun oleh Kementerian Agama dan FKUB.
Hal ini disampaikan Arief saat menjadi narasumber Sapa Netizen “Menjaga Kerukunan Umat Beragama” yang diadakan oleh Sorot Media melalui kanal Youtube, Rabu (24/2/2021).
Terkait upaya yang telah dilakukan untuk menciptakan kerukunan antarumat beragama di Kabupaten Gunungkidul, Arief mengatakan bahwa Kementerian Agama terus berupaya mengedukasi masyarakat dengan menghadirkan tokoh-tokoh agama dalam satu forum, baik melalui diskusi ilmiah, seminar, lokakarya, semiloka dan lain sebagainya yang semua akan mendekatkan antara tokoh agama satu dengan yang lain. “Tokoh agama itu adalah figur panutan yang kemudian ketika menyampaikan nasihat atau menginstruksikan kepada umatnya, kepada jemaahnya itu akan mudah didengar dan mudah diterima dengan baik,” terangnya.
Arief juga menjelaskan bahwa toleransi antarumat beragama itu ada batasan-batasannya. “Kalau sudah menyangkut tentang tata peribadatan atau menyangkut hal yang sudah berkaitan dengan persoalan ibadah, biarlah dijalani oleh umat beragama itu sendiri. Saya tetap menyarankan bahwa masing-masing kita yang sudah beragama tidak diperbolehkan sama sekali untuk mencampuri urusan agama dan ibadahnya agama orang lain,” katanya.
Arief berharap agar masyarakat dalam menafsirkan makna rukun dan toleransi atau sikap tasamuh tidak kebablasan sampai mencampuri urusan ibadah. “Misalnya umat Kristiani di hari Jumat ikut Jumatan di masjid, atau umat Islam setiap hari Minggu juga mengikuti peribadatan di gereja atau mengikuti peribadatan di pura atau di vihara. Saya kira tidak seperti itu,” paparnya.
Diakhir acara, Arief mengajak masyarakat untuk terus memupuk dan menjaga rasa persatuan dan kesatuan serta kerukunan antarumat beragama dalam panji-panji Bhinneka Tunggal Ika. “Untuk menjaga kerukunan ini yang paling penting adalah bagaimana kita membuka hati, pikiran dan perasaan agar kesadaran yang ada di dalam hati kita terus terbuka dan salah satu indikasinya adalah memberikan ruang kepada orang lain untuk berbeda dengan kita dalam sisi agama, dari sisi amaliah, dari sisi ubudiyah dan dari interaksi yang terus terjaga dengan baik,” pungkasnya. (and)
Penulis : Andi Eko
Editor : Andi Eko