Ngawen (Kemenag Gunungkidul) – Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gunungkidul, Drs. H. Sa’ban Nuroni, MA., menyampaikan tentang tembang macapat saat menjadi Pembicara pada Pengajian antar Dinas Instansi dan Pamong Kalurahan se Kapanewon Ngawen di Balai Kalurahan Tancep, Jumat (15/12/2023).
Tembang macapat adalah salah satu karya sastra jawa berupa tembang atau puisi tradisional yang berisi tentang petuah untuk kehidupan manusia dari lahir hingga akhir hayat.
Ada 11 fase kehidupan manusia dalam tembang macapat yang disampaikan Sa’ban, yaitu maskumambang, ini adalah simbol fase ruh/ kandungan dimana kita masih mengapung atau kumambang di alam ruh yang kemudian didalam kandungan yang gelap. Kedua mijil, melambangkan bentuk sebuah biji atau benih yang terlahir ke dunia. Ketiga sinom, yang berartikan pucuk yang baru tumbuh atau bersemi, menggambarkan masa muda. Keempat, kinanti berasal dari kata kanti yang berarti menggandeng atau menuntun.
Kelima ada asmarandana yang mengisahkan fase paling dinamis dan berapi-api dalam pencarian cinta dan teman hidup. Keenam gambuh, mengisahkan fase dimulainya kehidupan kelurga dengan ikatan pernikahan suci. Ketujuh, dhandanggula, merupakan fase puncak kesuksesan secara fisik dan materi. Kedelapan durma, adalah fase kehidupan harus lebih banyak dermakan untuk orang lain. Kesembilan, pangkur, fase menyepi, mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menjauhkan diri dari gemerlapnya hidup. Kesepuluh, megatruh fase penutup kehidupan dimana ruh meninggalkan badan dan Kesebelas adalah pucung, fase kembali kepada Allah SWT.
Sa’ban menjelaskan, banyak hal-hal dan nasihat baik pada tembang macapat ini yang dapat menjadi pengingat diri agar kita semua dapat menjadi manusia yang lebih baik dan bermanfaat untuk sesama. (sna)
Penulis : Siti Nurafrianti
Editor : Andi Eko