Kepala Kemenag Gunungkidul: Boleh Berinovasi, Tetapi Pertahankan Identitas Diri

  Selasa, 16 Maret 2021    Bacakan Berita     204 
Foto Kepala Kemenag Gunungkidul: Boleh Berinovasi, Tetapi Pertahankan Identitas Diri

Gunungkidul (Kankemenag) – Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gunungkidul, Arief Gunadi, mengatakan bahwa soal Higher Order Thinking Skills (HOTS) merupakan soal yang dapat memantik skala pemikiran tingkat tinggi bagi peserta didik. Hal ini disampaikan Arief saat memberikan materi terkait Bimbingan Teknis Penyusunan Soal HOTS yang diadakan MAN 1 Gunungkidul di ruang Aula madrasah setempat, Selasa (16/3/2021).

Arief mengungkapkan bahwa soal HOTS masih menjadi perdebatan di Indonesia karena ada semacam kekhawatiran jika peserta didik di Indonesia belum siap untuk menerima dan menghadapi soal HOTS. “Oleh karena itu, bagaimana kita bisa memodifikasi hal ini dengan menentukan kemampuan berpikir lebih praktis. Selanjutnya, peserta didik itu juga dapat membawa identitas secara khusus atas transfer keilmuan yang diberikan dari para pendidik di MAN 1,” terangnya.

Lebih lanjut Arief menjelaskan, dalam kaitannya nanti setelah terjun ke masyarakat, tentu masyarakat akan menilai bagaimana hasil belajar di MAN. “Karena ketika berbicara madrasah, image yang ada dalam kehidupan masyarakat adalah berbicara tentang pendidikan di pondok pesantren, sehingga alumni oleh masyarakat sudah dinilai sebagai orang yang memiliki pemahaman agama lebih dibanding dengan siswa yang berasal dari sekolah,” paparnya.

Arief mengatakan, inovasi apa pun atau penulisan soal jenis apa pun, sebenarnya orientasinya adalah bagaimana Madrasah Aliyah Negeri di Wonosari itu dapat mengembangkan identitas diri madrasah, boleh berinovasi, tetapi bagaimana identitas diri itu tetap dipertahankan dan bahkan menjadi salah satu skala prioritas terkait dengan penulisan soal HOTS. “Sebenarnya kuncinya itu adalah bahwa para guru diharapkan untuk bisa menyusun dan juga membuat soal dengan baik. Karena membuat soal yang baik lebih sulit dari membuat soal yang sulit. Jadi jangan sampai merugikan anak karena sulit untuk memahami soal yang dibuat oleh guru atau naskah soalnya yang salah,” jelasnya.

Dalam kesempatan ini Arief berpesan agar madrasah-madrasah di Kabupaten Gunungkidul dapat segera melakukan langkah-langkah untuk dapat mengikuti perkembangan konsep pendidikan di waktu-waktu yang akan datang. (and)

Penulis : Andi Eko

Editor : Andi Eko

Facebook Kemenag Gunungkidul