Kepala Kankemenag Gunungkidul Narasumber Manasik Haji

  Kamis, 12 Februari 2026    Bacakan Berita     47 
Foto Kepala Kankemenag Gunungkidul Narasumber Manasik Haji

Wonosari (Kankemenag Gunungkidul) – Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gunungkidul, H. Mukotip S.Ag M.Pd.I menjadi narasumber dalam kegiatan manasik haji di Zona 1 yang digelar pada Kamis (12/2/2026) di Gedung PLHUT Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Gunungkidul. Kegiatan ini diikuti oleh calon jemaah haji sebagai bagian dari pembekalan menjelang keberangkatan ke Tanah Suci.

Dalam kesempatan tersebut, Mukotip menyampaikan materi terkait layanan dan tata pelaksanaan ibadah selama di Arafah dan Muzdalifah, termasuk persiapan keberangkatan, skema pergerakan jemaah, hingga aspek kesehatan dan keselamatan.

Mukotip menjelaskan bahwa pergerakan jemaah menuju Arafah dimulai pada 8 Dzulhijjah. Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) akan menginstruksikan seluruh jemaah untuk melakukan persiapan di hotel masing-masing, mulai dari mandi sunah ihram hingga mengenakan pakaian ihram secara sempurna. Jemaah diwajibkan sudah berniat haji sebelum menaiki bus menuju Arafah sesuai jadwal keberangkatan yang diatur bertahap oleh pihak maktab.

“Persiapan harus dilakukan dengan tertib dan penuh kesadaran. Niat dilaksanakan sejak dari hotel sebelum keberangkatan ke Arafah. Ini penting agar seluruh rangkaian ibadah berjalan sesuai tuntunan,” jelas Mukotip.

Setibanya di Arafah, jemaah akan menempati tenda sesuai nomor maktab yang telah ditentukan. Puncak wukuf pada 9 Dzulhijjah akan diisi dengan mendengarkan khutbah wukuf serta melaksanakan salat jama’ qashar zuhur dan ashar di dalam tenda. Selain itu, jemaah diimbau untuk memperbanyak zikir, istighfar, dan doa, baik secara pribadi maupun berjamaah.

Mukotip juga menekankan pentingnya menjaga stamina, mengingat cuaca di Arafah yang sangat panas. Layanan konsumsi akan disalurkan tepat waktu guna memastikan kondisi fisik jemaah tetap prima selama menjalankan ibadah wukuf.

Usai wukuf, jemaah akan diberangkatkan menuju Muzdalifah untuk melaksanakan mabit. Dalam paparannya, Mukotip menjelaskan dua skema yang disiapkan PPIH. Skema normal memungkinkan jemaah turun di Muzdalifah untuk mabit dan mengambil batu kerikil untuk melontar jumrah. Sementara itu, skema murur diterapkan sebagai inovasi perlindungan, khususnya bagi lansia dan jemaah risiko tinggi, di mana bus hanya melintasi Muzdalifah tanpa turun dan langsung menuju Mina.

“Skema murur ini merupakan langkah strategis untuk mengurangi kepadatan dan menjaga keselamatan jemaah, terutama yang rentan secara kesehatan,” ungkapnya.

Dalam sesi akhir, Mukotip mengimbau seluruh calon jemaah untuk disiplin menjaga kesehatan. Jemaah diminta tidak membawa barang berlebihan ke Arafah, cukup tas kabin berisi perlengkapan pribadi dan obat-obatan yang diperlukan. Penggunaan alas kaki dan pelindung kepala saat berada di luar tenda juga diwajibkan guna menghindari sengatan panas ekstrem.(sgt)

Penulis : Sigit

Editor : Putri HS

Facebook Kemenag Gunungkidul