Wonosari (Kankemenag Gunungkidul) — Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gunungkidul, H. Mukotip S.Ag M.Pd.I menjadi narasumber dalam kegiatan Bimbingan Manasik Haji Reguler Tingkat Kabupaten Gunungkidul Tahun 1447 H/2026 M yang diselenggarakan Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Gunungkidul pada Rabu (4/2/2026) di Aula Lantai 3 BMT Dana Insani Wonosari.
Sebanyak 361 jemaah haji reguler asal Kabupaten Gunungkidul mengikuti kegiatan manasik sebagai bagian dari rangkaian persiapan menjelang keberangkatan ke Tanah Suci. Pada kesempatan tersebut, Mukotip menyampaikan materi bertajuk “Koordinasi dan Organisasi Kloter Jemaah Haji”.
Dalam parannya, Mukotip memberikan pembekalan intensif terkait sistem koordinasi dan organisasi Kelompok Terbang (Kloter). Ia menegaskan bahwa keberhasilan penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026 sangat ditentukan oleh optimalisasi peran Ketua Regu (Karu) dan Ketua Rombongan (Karom) sebagai perpanjangan tangan petugas kloter di lapangan.
Ia menjelaskan bahwa dalam struktur Kloter DIY, satu kloter terdiri atas 360 jemaah yang terbagi ke dalam 9 rombongan dan 36 regu. Setiap rombongan membawahi 4 regu atau sekitar 40 jemaah, sementara satu regu terdiri dari 10 jemaah. Perangkat kloter ini didukung oleh petugas TPHI, TPIHI, TKHI (dokter dan paramedis), serta TPHD.
Mukotip menekankan bahwa amanah sebagai Karu dan Karom bukanlah tugas ringan. Mereka dipilih dari jemaah yang memiliki kesehatan fisik yang baik, pemahaman manasik yang memadai, pengalaman berhaji atau memimpin, serta sikap melayani dengan kesabaran.
“Karu dan Karom merupakan ujung tombak pelayanan yang membantu kelancaran ibadah, pelayanan umum, serta pemantauan kesehatan jemaah,” tegasnya.
Lebih lanjut disampaikan, tugas Karu dan Karom dimulai sejak di embarkasi, selama perjalanan udara, hingga seluruh rangkaian ibadah di Arab Saudi. Mereka bertanggung jawab memastikan keutuhan anggota, membantu proses administrasi dan akomodasi, memimpin doa dan talbiyah, serta memberikan pendampingan khusus kepada jemaah yang membutuhkan. Pada puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina, peran Karu dan Karom sangat krusial dalam pengaturan kemah, jadwal lontar jumrah, hingga pendampingan jemaah sakit atau lanjut usia.
Selain aspek teknis, Mukotip juga menitipkan pesan moral kepada para Karu dan Karom agar senantiasa menjaga nama baik bangsa Indonesia yang dikenal santun dan tertib. Ia mengingatkan pentingnya kepedulian sosial, khususnya terhadap jemaah lansia, serta mengimbau agar jemaah menjaga kesehatan dan tidak memaksakan ibadah fisik berlebihan sebelum puncak wukuf.
Dengan komitmen, kejujuran, dan jiwa pelayanan yang tinggi dari Karu dan Karom, Mukotip berharap penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026 dapat berlangsung mandiri, aman, nyaman, dan lancar, hingga seluruh jemaah kembali ke tanah air dengan selamat.(sgt)
Penulis : Sigit
Editor : Putri HS