Kepala Kankemenag Gunungkidul: Guru Harus Mengembangkan Kemampuan Menulis

  Senin, 28 September 2020    Bacakan Berita     430 
Foto Kepala Kankemenag Gunungkidul: Guru Harus Mengembangkan Kemampuan Menulis

Gunungkidul (Kankemenag) – Salah satu kompetensi guru adalah profesional dan salah satu indikator profesional adalah mampu mengembangkan potensi yang dimiliki oleh guru itu sendiri. 

Hal ini disampaikan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gunungkidul, Arief Gunadi, saat membuka Pelatihan Publikasi Ilmiah di Wilayah Kerja Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gunungkidul yang diadakan oleh Balai Diklat Keagamaan Semarang di Lantai Dasar Masjid Agung Al Ikhlas Wonosari, Senin (28/9/2020). Turut hadir saat pembukaan, Gunawan dan Budi Lestari, widyaiswara dari Balai Diklat Keagamaan Semarang.

Arief melanjutkan, salah satu yang harus dikembangkan dalam potensi itu adalah kemampuan menulis. “Hasilkan sebuah karya yang akhirnya dapat dipublikasikan, yang orientasinya tidak hanya dari sisi ilmiahnya saja, tetapi sesuatu yang ditorehkan, dalam bahasa agama Islam sering disebut jariyah, sebuah disiplin ilmu yang dari waktu ke waktu masih dimanfaatkan orang lain sehingga pahalanya tetap mengalir hingga hari kiamat,” ungkap Arief.

Arief menambahkan, untuk menghasilkan karya tulis ini diperlukan beberapa bekal, yang pertama, yaitu bekal ilmu. “Untuk menulis dibutuhkan ilmu, bagaimana kita dapat menyusun sebuah karya yang membutuhkan konsultan agar hasilnya layak untuk dipublikasikan. Yang kedua, adalah inovatif, bisa dibilang kreatif, sebenarnya dananya tidak ada, tapi karena punya link atau jaringan, karyanya menjadi tersebar luas dan monumental,” paparnya.

Dalam kesempatan ini, Arief mengapresiasi beberapa guru yang memiliki konsep literasi. Diceritakan, beberapa waktu lalu Arief diminta me-launching buku karya guru madrasah, hasil pemanfaatan waktu yang inspiratif, inovatif dan kreatif di masa pandemi ini. “Ada sekian waktu yang dapat dimanfaatkan untuk menuangkan pokok-pokok pikiran kita yang memiliki orientasi kemaslahatan untuk orang banyak,” terangnya.

Diakhir sambutannya, Arief menantang peserta untuk membuat publikasi ilmiah. “Apakah Bapak dan Ibu bersedia membuat karya yang bisa dipublikasikan setelah diklat ini dilaksanakan?” tanya Arief yang dijawab serempak oleh peserta dengan jawaban bersedia.

Seluruh peserta diserahkan kepada tim widyaiswara dari Balai Diklat Keagamaan Semarang agar dibimbing untuk menjadi penulis yang produktif dan berkembang menjadi klaster yang baik dalam menghasilkan karya tulis ilmiah yang layak dipublikasikan. (and)

Penulis : Andi Eko

Editor : Andi Eko

Facebook Kemenag Gunungkidul