Gunungkidul (Kankemenag) – Kementerian Agama Gunungkidul menyatakan siap bekerja sama untuk memberi pencerahan kepada masyarakat terkait anthraks. Hal ini disampaikan Kepala Kankemenag Gunungkidul Aidi Johansyah saat menghadiri rapat koordinasi pengendalian anthraks di Ruang Rapat I Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Rabu (29/1/2020).
Dikatakan pihaknya siap mendukung dan mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan, baik makanan maupun perilaku. “Kami juga berusaha memberi bimbingan kepada masyarakat untuk berperilaku hidup sehat,” kata Aidi.
Sedangkan drh. Retno dari Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul mengatakan hingga kini sudah ada 73 ekor ternak di Gunungkidul yang mati karena anthraks. Dijelaskan, anthraks merupakan penyakit hewan menular yang disebabkan oleh bakteri atau kuman anthraks.
“Saat hewan yang terkena anthraks mati, kemudian dipotong, bakteri yang ada di dalam darah hewan bersentuhan dengan udara dan berubah menjadi spora. Spora ini dapat bertahan di tanah hingga 40 tahun. Bila ada rumput diatasnya yang dimakan sapi, maka sapi tersebut terkena anthraks,” paparnya seraya menekankan bahwa hewan ternak yang sudah menjadi bangkai tidak layak untuk dikonsumsi.
Retno mengungkapkan bahwa anthraks menular ke manusia melalui tiga cara, yaitu melalui kulit, pencernaan dengan memakan daging yang terkontaminasi, dan pernafasan dengan menghirup spora anthraks.
Turut hadir jajaran Polres Gunungkidul, Kodim 0730 Gunungkidul dan Kepala KUA. (and)
Penulis : Andi Eko
Editor : Andi Eko