Wonosari (Kankemenag Gunungkidul) — Kepala Subbagian Tata Usaha Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gunungkidul, H. Faqih Shomadi S.Ag M.Pd.I menjadi narasumber dalam kegiatan Parenting dengan tema “Mendidik Anak dengan Keteladanan dan Cinta: Akhlak sebagai Pondasi Utama” yang diselenggarakan oleh MIN 4 Gunungkidul pada Jumat, (19/12/2025).
Kegiatan parenting tersebut diikuti oleh para wali murid dan guru MIN 4 Gunungkidul. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat sinergi antara madrasah dan orangtua dalam mendidik anak, khususnya dalam pembentukan karakter dan penanaman akhlak mulia sejak usia dini.
Dalam pemaparannya, Faqih menegaskan bahwa keteladanan dan cinta dari orangtua serta pendidik merupakan kunci utama dalam pendidikan anak. Menurutnya, anak pada hakikatnya adalah peniru ulung. Sikap, tutur kata, dan perilaku orang mtua maupun guru akan secara langsung membentuk karakter anak. Oleh karena itu, pendidikan tidak cukup hanya diberikan melalui nasihat, tetapi harus diwujudkan melalui contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih lanjut, Faqih menjelaskan bahwa keteladanan merupakan sarana paling efektif dalam menanamkan nilai-nilai kebaikan. Ketika anak melihat orangtua dan pendidik bersikap jujur, disiplin, santun, dan bertanggung jawab, maka nilai-nilai tersebut akan tertanam secara alami. Sebaliknya, ketidaksesuaian antara ucapan dan perbuatan justru dapat menimbulkan kebingungan serta melemahkan proses pembentukan karakter anak.
Selain keteladanan, cinta dan kasih sayang juga memiliki peran penting dalam pendidikan. Pendidikan yang dilandasi cinta akan menciptakan rasa aman, nyaman, dan percaya diri pada anak. Dengan kasih sayang, anak merasa dihargai dan diterima, sehingga lebih mudah diarahkan dan dibimbing. Pendekatan yang penuh cinta juga membantu anak tumbuh dengan kesehatan mental dan emosional yang baik.
Disampaikan pula bahwa akhlak harus menjadi pondasi utama dalam mendidik anak. Kecerdasan intelektual tanpa diiringi akhlak yang baik tidak akan memberikan manfaat jangka panjang, bahkan dapat membawa dampak negatif. Anak yang cerdas namun tidak berakhlak berpotensi menyalahgunakan ilmunya, sedangkan anak yang berakhlak mulia akan mampu memanfaatkan kecerdasannya untuk kebaikan diri, keluarga, dan masyarakat.
Faqih berharap melalui kegiatan parenting ini, diharapkan terjalin kerja sama yang semakin kuat antara madrasah dan orangtua dalam mendidik anak, sehingga mampu melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, matang secara moral, dan kuat secara spiritual.(sgt)
Penulis : Sigit
Editor : Putri HS