Wonosari (KUA Wonosari) - Cinta ukurannya adalah hati, layaknya orang tua pasti sangat gembira dan bahagia ketika anaknya lahir meski belum jelas masa depannya sesuai dengan ekspektasi orang tua atau tidak.
Hal ini disampaikan Gus Nadzif ketika mengawali kajian rutin kitab Riyadush Sholihin di Balai Nikah KUA Wonosari, Jumat (06/10/2023). Kajian kali ini membahas asal mula diadakannya perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.
“Cinta umat kepada Nabinya haruslah dibarengi dengan gembira atas lahirnya panutan umat, pemberi syafa'at, Nabi Muhammad SAW,” katanya.
Gus Nadzif menyitir sebuah hadis shahih riwayat Imam Muslim, "Barang siapa bershalawat kepadaku, maka Allah membalas sepuluh kali lipat pahala dan rahmat kepadanya".
“Dan tentunya sebagai umatnya, sudah sepatutnya bersyukur dan meneladani serta memeriahkan kelahirannya (Nabi) dengan bershalawat adalah sebuah ibadah,” terangnya.
Wujud gembira atas kelahiran Nabi Muhammad bisa dilakukan melalui banyak hal, salah satunya dengan bershalawat, melantunkan syair pujian, baik sendiri maupun bersama di masjid. Namun, di era yang maju dan modern kini jarang terdengar lantunan syair, pujian dan shalawat menggema di surau-surau.
Plt. Kepala KUA Wonosari dalam sambutannya mengatakan bahwa di era 70-an kita sering mendengar di masjid, musala dan surau, anak-anak melantunkan syair pujian dan sejarah Nabi Muhammad SAW. “Bahkan setiap momentum bulan-bulan tertentu ada syairnya seperti menjelang bulan puasa seperti salah satunya shalawatan berjudul Alamate Anak Shalih dan sebagainya, namun kini syair tersebut sudah tak terdengar lagi,” ungkapnya.
Usai kajian, dilanjutkan rapat koordinasi mingguan.
Penulis : KUA Wonosari
Editor : Andi Eko