Wonosari (Kemenag Gunungkidul) -- Berkembangnya cara pandang, sikap dan praktik beragama yang berlebihan (ekstrem) yang mengesampingkan martabat kemanusiaan adalah Satu dari Tiga hal yang menjadi tantangan saat ini.
Hal diatas disampaikan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gunungkidul, Drs. H. Sa'ban Nuroni, MA., ketika menjadi Narasumber pada Sekolah Penggerak Kerukunan Tahun 2023 yang diadakan oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Gunungkidul di Aula BMT Dana Insani, Rabu (22/11/2023).
Adapun tantangan kedua adalah berkembangnya klaim kebenaran subyektif dan pemaksaan kehendak dan tantangan ketiga adalah berkembangnya semangat beragama yang tidak selaras dengan kecintaan berbangsa dalam bingkai NKRI.
Lebih lanjut Sa'ban mengatakan, berkenaan tiga tantangan diatas menjadikan adanya urgensi dari moderasi beragama. "Moderasi beragama merupakan perekat antara semangat beragama dan komitmen berbangsa," ungkapnya.
Sa'ban menjelaskan urgensi dari moderasi beragama diantaranya Pertama, untuk memperkuat esensi ajaran agama dalam kehidupan bermasyarakat, Kedua, untuk mengelola keragaman tafsir keagamaan dengan mencerdaskan kehidupan keberagaman dan yang Ketiga untuk merawat keindonesiaan. Pada kesempatan ini juga Sa'ban mengenalkan tentang Salam Moderasi kepada peserta, dimana jawaban dari salam moderasi adalah 'Moderasi Beragama : Rukun, NKRI Harga Mati'. (sna)
Penulis : Siti Nurafrianti
Editor : Andi Eko