Ponjong (MTs Negeri 2 Gunungkidul) – Seringkali kita merasa bahwa untuk bahagia harus memiliki harta melimpah padahal hal tersebut tidak sepenuhnya benar karena ada 4 kunci kebahagiaan seseorang yaitu pertama pasangan hidup yang saleh/salehah, kedua anak yang berbakti kepada orang tua, ketiga lingkungan yang sholeh, dan keempat pekerjaan yang baik. Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gunungkidul, Drs. H. Sa’ban Nuroni, MA, saat menyampaikan hikmah dalam kegiatan Syawalan Keluarga Besar Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Gunungkidul pada Sabtu (20/4/2024) bertempat di RM Gubug Ndeso Ponjong dengan peserta seluruh guru dan pegawai beserta keluarga.
Lebih lanjut Sa’ban mengaitkan kunci kebahagiaan tersebut dengan hasil penelitian Lembaga Psikologi Sosial Luar Negeri bahwa banyaknya harta bukanlah penentu kebahagiaan seseorang. Berdasarkan hasil survey penelitian tersebut, Sa’ban mengungkapkan ada 7 faktor kebahagiaan seseorang. Sa’ban mengungkapkan, “Faktor yang pertama yaitu having a good family. Kita akan bahagia ketika memiliki keluarga yang baik, pasangan hidup dan anak yang sholeh/sholehah.”
“Tiap anggota keluarga juga harus memiliki kehidupan yang baik dengan tetangga. Pagar yang tidak nampak justru yang paling menguatkan kita. Pager tembok kalah karo pager mangkok, pager pring kalah karo pager piring. Mempunyai tetangga yang saling mengamankan akan membuat hidup kita bahagia,” imbuh Sa’ban.
Enam faktor kebahagiaan berikutnya yaitu having a good job (pekerjaan yang baik didukung relsi kerja yang saling menghormati), having a good friend (teman/komunitas yang baik), having a good health (kesehatan yang baik), having finance and satisfaction (qona’ah/merasa cukup dengan yang dimiliki), merdeka dalam hidupnya, dan yang ketujuh believe system (sistem yang membangun keyakinan diri. Mengakhiri hikmah syawalan, Sa’ban menambahkan momen Idulfitri saat yang tepat untuk saling memaafkan karena dosa dengan sesama manusia harus saling memaafkan, termasuk dosa adalah menyebabkan orang lain berbuat dosa. “Harapannya kita akan menjadi pribadi yang senantiasa mampu mengendalikan hawa nafsu. Kita menjadi guru sebagai wakil dari Allah SWT untuk mendidik siswa menjadi manusia yang baik dengan mengoptimalkan potensi akal dan kalbunya, sehingga mampu melebihi malaikat,” pungkasnya. (tim)
Penulis : MTsN Sumbergiri/MTsN 2
Editor : Siti Nurafrianti