Patuk - (MIN 7 Gunungkidul) -- Tugu Tobong Gamping merupakan salah satu pintu masuk (tetenger : Jawa) yang terletak di sebelah barat jantung kota Wonosari. Tepat di sebelah utara tugu itu terdapat suatu desa dengan segala hiruk-pikuk yang menyertainya; Desa Piyaman.
Desa dimana ada salah satu nama yang tidak pernah luput disebut dalam doa para murid-muridnya; Muh.Widodo. Ia bukan lelaki yang senang mengenakan jas kebesaranya atau mengagung-agungkan gelar panjang di belakang namanya. Meski beliau memang seorang magister di bidang pendidikan sekaligus ustadz dikampung halamanya. Ia lelaki bersahaja, dengan langkah tenang dan senyum sumringah penuh makna, yang sejak muda telah jatuh cinta pada ilmu dan pengabdian. 41 Tahun lalu, dari lorong-lorong sempit di kampung masa kecilnya, ia mulai beranjak dewasa dan menebar cahaya — bukan dengan obor besar, tapi dengan lilin-lilin kecil; mengajar iqra dan huruf hijaiyah pada anak-anak sekitar kampungnya, satu demi satu, di bawah cahaya rembulan dengan semangat tak kenal pamrih.
Lahir hingga tamat sekolah menengah atas di Sukoharjo, kemudian melanjutkan studi diploma dua di STAIN Salatiga (Read: UIN Salatiga) lulus dengan “pujian” membuka sejarah baru langkah Muh.Widodo. Awal triwulan II tahun 2006; Pak Wid resmi diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), beliau berhasil lulus dari serangkaian ujian CPNS berkat kerja keras dan keuletan yang tumbuh dari akar keikhlasan. 22 Tahun; di usia yang masih sangat muda, Usia dimana rata-rata remaja waktu itu masih sibuk mengembara mencari jati diri, beliau telah mantab berkarir sebagai abdi negara dengan gelar Ahli Muda (A.Ma). Status tersebut yang kemudian membuat Pak Wid hijrah, berpindah ke kota sebelah yang dapat ditempuh kurang lebih 3 jam melalui jalur darat, bukan kota besar dengan gedung megah menjulang langit, tapi di Wonosari (wono; alas,hutan - sari; asri,indah) ia berlabuh.
Sempat singgah disuatu tempat kontrakan. Ternyata ia tidak bisa menafikan rasa rindu akan masa kecilnya yang lekat dengan surau. Akhirnya atas izin pengurus; Mbah Husein, beliau memilih untuk bernaung di masjid gedhe Wonosari; Al-Ikhlas. Hasrat akan cinta ilmu dan pengabdian semakin menebalkan tirakatnya untuk mengaji serta melanjutkan studi menempuh pendidikan tinggi. Ia hidup dengan kesederhanaan namun jiwanya kaya akan cita-cita. Kisaran tahun 2010, beliau berpindah tempat dari masjid gedhe menuju ke desa sebelah utara tugu tobong gamping untuk mengarungi bahtera rumah tangga.
Dedikasi dan kerja keras merawat cita-cita itulah yang menjadi bukti kesetianya pada ilmu pengetahuan. Mulai medio 2007-2012 beliau tuntas merampungan estafet pendidikan di UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) hingga mendapat gelas Magister pendidikan dari kampus tersebut. Betapa kerasnya beliau menempa diri. Mengingat, medio tahun-tahun tersebut, Pak Wid juga sembari bertugas untuk mengajar di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Wonosari (MIN 4 Gunungkidul).
Disinilah ketenangan dan keuletanya mampu mendinginkan kesibukan studi dan kerja kerasnya dalam mengajar. Bak seperti air hujan yang selalu menyejukkan tanah. Ia bukan tipikal seorang guru yang keras, tapi ia tegas dalam kesabaran. Ia bukan guru yang lantang, tapi kata-katanya dapat meresap dalam relung hati anak-anak didiknya. Ia selalu percaya bahwa tiap anak layaknya pohon yang bisa berbuah; dengan waktu, perhatian, serta welas asih; cinta.
Bulan berganti tahun, hingga lebih dari satu dekade ia jalani di MIN Wonosari. Layaknya di kawah candradimuka. Ia terus menempa diri hingga berhasil lulus sertifikasi profesi (PLPG Tahun 2014-2015) dengan ranking terbaik di lingkup DI.Yogyakarta dan Jawa Tenggah. Salah satu titik puncaknya yakni ketika beliau mampu bersama-sama membawa tim madrasah adiwiyata MIN Wonosari menyabet penghargaan mentereng; Meraih anugerah Madrasah Adiwiyata Mandiri Tingkat Nasional tahun 2017 oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Jakarta dalam forum Gebyar Generasi Muda Indonesai Bela Lingkungan (Gemilang).
Dedikasi dan semangat belajar yang tinggi memang selalu ia sematkan dalam dirinya, setiap hari. Beliau juga dipercaya menjadi Ketua KKG MI Kabupaten Gunungkidul dan juga menjadi narasumber langganan program capacity building dari berbagai Kelompok Kerja Guru (KKG) Madrasah. Pun dalam kegiatan mengajarnya di dalam kelas, ia selalu memberi yang terbaik. Di tengah keterbatasan fasilitas dan ruang kelas yang kadang panas dan riuh-sesak, ia tetap datang dengan senyum dan semangat mengajar. Rencana pembelajaran selalu ia susun dengan menyenangkan. Ia pastikan seluruh anak mampu menyesuaikan sekaligus mencerna materi pelajaran dengan baik. Ia ajarkan huruf demi huruf, kalimat demi kalimat, terus berulang-tak kenal lelah hingga mata anak-anak bersinar karena berhasil paham.
Waktu terus berjalan, hingga medio 2018-2019, Pak Wid dialih tugaskan untuk mengajar di MIN Patuk (read; MIN 7 Gunungkidul). Bergeser lebih jauh puluhan kilometer tepat berbatasan dengan Kabupaten Bantul. Di sinilah beliau bersandar sekarang, bukan untuk berhenti, tapi untuk melanjutkan perjalanannya mendampingi belajar sebagai guru kelas VI. Tugas yang semakin jauh tentu tidak menghentikan dedikasi dan kerja kerasnya untuk mengajar. Justru sebaliknya, Cinta ilmu dan pengabdian yang terpatri sejak lama itu telah mengakar dalam jiwanya dan menjadi bahan bakar yang tak kunjung meredupkan semangatnya. Semakin ia kobarkan dengan beragam prestasi hingga beliau mendapatkan anugerah dari direktorat jenderal pendidikan islam Kementerian Agama RI nomor 6723 tahun 2022 sebagai guru favorit dalam Kategori Guru Madrasah Berprestasi. Capaian terbaru nan membanggakan yakni; dalam tahun pelajaran 2024/2025 ini, pak Wid berhasil menghantarkan MIN 7 Gunungkidul untuk menduduki peringkat pertama ranking nilai ASPD (Asesmen Standarisasi Pendidikan Daerah) dari seluruh Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) di Kabupaten Gunungkidul. Pencapaian yang menjadi salah satu sejarah penting bagi MIN 7 Gunungkidul.
Beliau memang telah paripurna memaknai pengabdian. Dimanapun berada, ia mampu menjelma layaknya pohon yang terus tumbuh rindang nan menyejukan; Rantingya yang teduh, selalu melindungi dan memeluk seluruh anak-anak didiknya. Doa kami dari keluarga besar MIN 7 Gunungkidul selalu menyertai, semoga dedikasi dan kerja keras yang selalu melekat pada diri beliau ini dapat menjadi inspirasi bagi kami, bagi segenap insan pendidikan.
Dari papan tulis yang mulai usang itu, pak Wid terus menulis dan menanam benih masa depan, meski ia tahu, tak mungkin semua sempat ia lihat tumbuh. Tapi ia tahu, tugas seorang guru bukan soal menuai pujian dalam panggung yang megah — tapi soal menyalakan “terang”. Dan mungkin, di suatu malam, saat sudut desa Piyaman sudah tidur dan masjid mulai sunyi, Pak Wid masih terjaga,duduk sendiri, menatap langit dengan tersenyum kecil, lalu berbisik lirih; “Tak apa tak dikenal, asal ilmu yang aku tularkan ini tetap kekal”
(PH)
Penulis : MIN Patuk/MIN 7
Editor : -