Body Scan Body Map, Aktifitas Menarik Dalam Mendeteksi Gangguan Psikososial

  Rabu, 16 Maret 2022    Bacakan Berita     750 
Foto Body Scan Body Map,  Aktifitas Menarik Dalam Mendeteksi Gangguan Psikososial
Guru MIN 1 Gunungkidul mengikuti hari kedua bimtek penanganan gangguan psikososial pada peserta didik melalui Zoom Meeting pada hari Rabu (16/03/2022)

Ngawen (MIN 1 Gunungkidul) --- Proses tumbuh kembang seorang anak merupakan gabungan dari kedua orangtuanya dan lingkungan tempat dia tumbuh. Namun, anak adalah seorang subyek yang artinya meski menurunkan kecenderungan sikap atau potensi tertentu, tetapi perkembangan anak itu juga ditentukan oleh bagaimana lingkungan mengasuhnya. Peserta didik tingkat dasar yang saat ini masih berusia 6 hingga 12 tahun mengalami masa pertumbuhan dan perkembangan. Sehingga, disamping kedua orang tuanya yang mengasuh di rumah, guru juga berperan penting dalam memberikan stimulis lingkungan tempat bertumbuh yang baik.

Memasuki hari kedua rangkaian kegiatan bimbingan teknis penanganan gangguan psikososial pada peserta didik, Rabu (16/3/2022), MIN 1 Gunungkidul kembali menjadi peserta melalui kanal Zoom Meeting dan Youtube KemenPPA. Bimtek diawali dengan pengumpulan pertanyaan yang bersumber dari Buku Penanganan Gangguan Psikososial pada Peserta Didik atau terkait kasus yang dialami di satuan pendidikan dari peserta melalui aplikasi sli.do. Dipandu oleh dua narasumber yang sama dengan hari pertama, yaitu RR. Rahajeng Ikawahyu Indrawati, M.Si., Psikolog dan dr. Shelly Iskandar, Sp.KJ., SpAkp., MSI., Ph.D.

Pertanyaan pertama membahas mengenai penyebab gangguan psikiatri pada peserta didik yang umumnya disebabkan oleh biopsikososial. Bio diartikan sebagai keturunan atau genetik, sementara psiko berarti stress atau tekanan dan sosial yang merujuk pada ketersediaan dukungan dari lingkungan. Pendidik diharapkan dapat menyesuaikan pengajaran yang diberikan dengan kemampuan peserta didik. Karena apa yang pendidik lakukan akan berpengaruh terhadap apa yang dirasakan dan nantinya dilakukan oleh peserta didik. Sehingga perlu dilakukan deteksi dini pada masing masing peserta didik untuk kemudian dapat dilakukan diagnosa klinis oleh psikolog.

Salah satu cara yang dapat dilakukan pendidik dalam membangun komunikasi dan interaksi dengan peserta didik adalah dengan Body Scan Body Map. Aktifitas ini bertujuan untuk mengidentifikasi emosi yang dialami oleh peserta didik dan membuat peserta didik lebih menyadari hal yang terjadi pada dirinya. Instruksi yang dapat diberikan adalah dengan menggambar sketsa tubuh manusia. Selanjutnya sketsa tersebut diberikan warna sesuai dengan apa yang dirasakan peserta didik. Misalnya warna merah menggambarkan marah, hitam untuk sedih, biru untuk tenang, kuning untuk senang dan hijau untuk sakit atau nyeri.

Berbagai pintu masuk dapat dibuka untuk membuat siswa bicara. Namun jangan memaksa siswa masuk melalui jalan yang tidak dia suka. Siswa yang diam tidak boleh terus dicecar karena akan membuat siswa merasa semakin terancam. Sebaliknya, lakukanlah aktifitas yang membuat siswa merasa rileks dan nyaman melalui kegiatan pembelajaran yang ia sukai sehingga siswa dapat terbuka dengan sendirinya. (yus/her/aky)

Penulis : MIN Ngawen/MIN 1

Editor : Andi Eko

Facebook Kemenag Gunungkidul