Gunungkidul (Kankemenag) - Pemkab Gunungkidul berhasil meraih Top 99 Inovasi Layanan Publik Tahun 2019 melalui program Ayunda Simenik Makan Sego Ceting yaitu Ayo Tunda Usia Menikah Mengawali Gerakan Semangat Gotong Royong Mencegah Stunting.
Hal ini disampaikan Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi, saat menjadi pembicara dalam Dialog Lintas Agama dengan berbagai kalangan masyarakat dan profesi di ruang rapat 1 Setda Gunungkidul, Kamis (19/9).
Dialog ini membahas upaya menangani masalah sosial seperti bunuh diri dan pernikahan dini yang terjadi di masyarakat. Selain Wabup Immawan, narasumber lainnya adalah Kepala Kankemenag Gunungkidul Aidi Johansyah dan Kasubbag TU Kankemenag Gunungkidul Arief Gunadi. Hadir sebagai peserta, anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), tokoh masyarakat, tokoh agama dan perwakilan KUA kecamatan.
"Ide-ide yang diapresiasi ditingkat nasional ini sebaiknya disosialisasikan ke tokoh-tokoh, baik tokoh agama, tokoh masyarakat dan sebagainya," kata Wabup Immawan.
Terkait bunuh diri, Wabup Immawan mendorong masyarakat untuk lebih meningkatkan persaudaraan antarwarga sehingga kejadian ini dapat dikurangi. “Orang yang memiliki risiko tinggi bunuh diri dan perlu perhatian khusus adalah mereka yang menderita sakit menahun (sakit yang tidak sembuh-sembuh), lanjut usia yang hidup sendirian (kesepian) dan yang memiliki masalah ekonomi,” paparnya.
Dikatakan, pencegahan yang dapat dilakukan berupa adanya identifikasi yang dilakukan orang yang memiliki latar belakang profesi dalam menangani masalah kesehatan jiwa seperti dokter, psikiater psikolog, maupun pekerja sosial. “Puskesmas kami dorong untuk memiliki psikolog, dapat bekerjasama dengan universitas, sehingga perawat dapat dibantu untuk merawat pasien secara fisik maupun kejiwaan,” tuturnya.
Langkah lainnya berupa sosialisasi kepada masyarakat terkait pencegahan bunuh diri dan diperlukan cara yang lebih komunikatif dengan warga. Salah satunya melalui tokoh agama/ kegiatan keagamaan. “Diperlukan partisipasi seluruh warga untuk mengenali orang yang memiliki risiko bunuh diri, mendampingi dan menginformasikan ke pusat pelayanan kesehatan terdekat. Juga perlu adanya tim reaksi cepat penanganan bunuh diri, respon cepat berasal dari informasi masyarakat sekitar,” ungkapnya.
Penulis : Admins
Editor : Admins